Selain Sebagai Pengawet Makanan, Sodium Benzoat Bisa Membantu Mengobati Skizofrenia

Sebuah percobaan acak terbaru dari Taiwan baru-baru ini berhasil menunjukkan sebuah fakta yang mengejutkan. Ini merupakan penelitian dan penemuan yang berharga dalam bidang kesehatan.

Para periset tersebut berhasil menemukan bahwa ternyata pengawet makanan yang banyak digunakan oleh mayarakat terbukti mampu meningkatkan efek obat skizofrenia, bahkan obat tersebut ini bisa diberikan kepada para pasien yang yang biasanya resisten (tidak tahan) terhadap pengobatan.

Pengobatan Untuk Skizofrenia

Saat mendengar kata skizofrenia, apakah yang terlintas dalam benak anda? Yap, ini adalah sebuah istilah dalam kedokteran yang digunakan untuk menyebut sebuah penyakit yang berhubungan dengan mental atau psikis.

Penyakit skizofrenia sering didefinisikan sebagai kelainan mental kronis, yang terkadang bisa bersifat melumpuhkan. Biasanya gejala dari penyakit tersebut ditandai dengan delusi, pengaruh datar, gerakan gelisah dan kesulitan dalam menjalankan aktivitas.

Jenis pengobatan yang sering diberikan kepada para penderita gangguan ini meliputi pengobatan antipsikotik, seperti perawatan brexpiprazole, clozapine, atau risperidone dan psikososial.

Antipsikotik ini merupakan jenis obat yang bisa mengendalikan dan mengurangi gejala pada mereka yang menderita skizofrenia. Tak hanya untuk pasien skizorenia, biasanya dokter juga memberikan obat ini pada pasien yang mengalami gangguan bipolar dan gangguan kecemasan atau depresi.

Dengan obat antipsikotik tersebut, berbagai gejala yang berupa munculnya keyakinan yang salah yang tidak sesuai dengan kenyataan (waham atau delusi), mengalami pengalaman panca indera yang tidak nyata seperti mendengar suara tanpa ada orang yang berbicara (halusinasi), kecemasan dan kegelisahan yang berlebihan, gangguan pemikiran yang mengakibatkan pembicaraan tidak dapat dipahami (inkoherensi), atau perilaku kasar dan membahayakan, bisa ditekan atau diatasi.

Pengaruh Obat Antipsikotik Untuk Pasien

Obat antipsikotik untuk skizofrenia dipercaya ampuh dalam meringankan gejala psikotik florid (florid psychotic symptoms), seperti misalnya gangguan berpikir, halusinasi dan delusi serta mencegah kekambuhan.

Walaupun seringkali keefektifitasannya lebih kecil pada pasien putus obat yang apatis, namun terkadang obat ini bermanfaat dalam memicu efeknya. Pasien dengan skizofrenia akut umumnya memberikan respon yang lebih baik daripada pasien dengan gejala kronik.

Untuk pasien dengan diagnosis skizofrenia yang memang sudah pasti, memerlukan sebuah pengobatan jangka panjang, yang bertujuan untuk mencegah perubahan manifestasi penyakit menjadi kronik setelah episode pertama penyakit tersebut.

Penghentian terhadap pengobatan untuk penyakit mental yang satu ini juga membutuhkan pengawasan ketat, karena pasien yang awalnya telah menampakkan hasil yang baik terhadap pengobatan yang dilakukan dapat mengalami kekambuhan yang lebih parah, jika pengobatannya dihentikan dengan cara yang tidak tepat.

Kebutuhan untuk melanjutkan terapi tidak akan terlihat dengan cepat, karena seringkali kekambuhan akan tertunda selama beberapa minggu setelah penghentian pengobatan dihentikan.

Obat antipsikotik bekerja dengan menginterferensi transmisi dopaminergik pada otak, dengan menghambat reseptor dopamin D2, yang dapat meningkatkan efek ekstrapiramidal serta efek hiperprolaktinemia.

Selain itu juga dapat mempengaruhi reseptor kolinergik, alfa adrenergik, histaminergik, serta serotonergik. Pemilihan obat dipengaruhi oleh potensi efek samping dan sering diawasi berdasarkan kondisi perseorangan, misalnya efek psikologis dari potensi penambahan berat badan.

Untuk anak-anak, obat antipsikotik yang digunakan adalah berupa haloperidol, risperidon dan olanzapin.

Pengaruh Pengawet Makanan Terhadap Gangguan Mental

Meskipun pengobatan antipsikotik yang telah dijelaskan di atas tadi memiliki pengaruh yang besar untuk meredakan gejala dari skizofrenia, namun sebuah studi juga berhasil menunjukkan bahwa seperlima sampai setengah dari penderita skizofrenia diklasifikasikan berdasarkan refrakter terhadap pengobatan farmakologis, yang berarti bahwa mereka tidak menanggapi antipsikotik.

Periset dari China Medical University di Taiwan saat ini telah menemukan cara untuk meningkatkan efektivitas obat-obatan tertentu, yang dapat membantu beberapa orang yang hidup dengan skizofrenia untuk bisa merespons pengobatan dengan lebih baik.

Dr. Hsien-Yuan Lane mengatakan kalau cara untuk mewujudkan hal tersebut berhasil ditemukan di dalam bahan pengawet yang umum, seperti  sodium benzoate.

Dr. Lane bersama dengan timnya sudah melakukan uji coba acak terkontrol double-blind dan placebo, dimana hasil yang didapat menunjukkan bahwa pengawet ini bisa meningkatkan efek obat antipsikotik clozapine.

Clozapine dianggap sebagai antipsikotik lini terakhir, yang diaplikasikan untuk pasien dengan skizofrenia refrakter. Meskipun demikian, sejumlah besar orang yang hidup dengan skizofrenia ternyata resisten terhadap obat ini.

Percobaan baru yang dilakukan tersebut tampaknya adalah penelilitian pertama yang berhasil mengkonfirmasi tentang penggunaan natrium benzoat, yang telah berhasil digunakan sebagai tambahan pada antipsikotik lain, terutama dapat ditambahkan ke clozapine untuk memperbaiki gejala pasien yang resistan terhadap obat.

Temuan Dr. Lane dan rekan kerjanya tersebut baru-baru ini telah diterbitkan di dalam jurnal Biological Psychiatry. Dia juga mengatakan kalau kelak temuan tersebut sudah ditetapkan, maka pendekatan ini bisa membawa harapan untuk mengobati pasien dengan skizofrenia paling refrakter.

Keefektifan Sodium dan Natrium Benzoat Dalam Pengobatan Skizofrenia

Penelitian yang menemukan keefektifan bahan pengawet benzoat ini melibatkan 60 orang yang menerima clozapine sebagai pengobatan skizofrenia.

Sebagai bagian dari percobaan, para peserta ini dibagi menjadi tiga kelompok sebagai kelompok kontrol, perserta yang diberi plasebo di samping clozapine dan kelompok studi, yang menerima sodium benzoate sebagai tambahan terhadap dosis biasa clozapine.

Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang dampak dosis yang diberikan, Dr. Lane dan rekannya menguji penambahan natrium benzoat dalam dua jumlah yang berbeda, yaitu 1 atau 2 gram zat per hari. Oleh karena itu, kedua kelompok studi akan dipisah.

Para peneliti melaksanakan perawatan tersebut pada subjek tiga kelompok selama periode 6 minggu.

Di akhir percobaan, Dr. Lane dan tim menemukan bahwa orang-orang yang mengkonsumsi sodium benzoate di samping clozapine mengalami perbaikan gejala negatif, yang mencakup “pengaruh datar atau flat affect” (ekspresi wajah tanpa emosi), anhedonia (tidak menikmati aktivitas biasanya yang menyenangkan) dan kesulitan dalam melakukan aktivitas normal.

Selain itu, dosis natrium benzoat yang lebih tinggi ternyata lebih efisien dalam meningkatkan keefektifan pengobatan. Namun, para peneliti mencatat bahwa pemberian obat ini tidak mempengaruhi gejala kognitif, seperti kesulitan dalam mempertahankan fokus, atau masalah memori.

Mereka berhipotesis bahwa dosis natrium benzoat yang lebih besar mungkin masih diperlukan untuk mengamati efek pemberiannya.

Dr. Lane dan rekannya juga senang mengamati bahwa para partisipan yang mengonsumsi tambahan sodium benzoate tidak menunjukkan efek samping apapun, yang memberikan kepastian bahwa dosis yang diuji sejauh ini bisa diberikan kepada pasien dengan aman.

Tim periset juga menjelaskan alasan mengapa natrium benzoat tersebut disebut sebagai bantuan yang efektif dalam pengobatan skizofrenia, yaitu karena bahan pengawet ini bisa menghentikan D-serine, asam amino otak dari kerusakan sisten yang terjadi.

Selain itu, D-serine juga merupakan neuromodulator, yang berarti membantu mengatur sinyal listrik yang ditransmisikan di antara sel-sel otak.

Sinyal ini tidak berfungsi secara normal di otak penderita skizofrenia, jadi penting untuk menjaga efek regulasi D-serine agar bisa melawan beberapa dampak negatif dari gangguan tersebut.

Seorang Editor Jurnal Biological Psychiatry, yaitu Dr. John Krystal mengatakan kalau reseptor untuk D-serine ini merupakan target lama untuk pengembangan pengobatan pada skizofrenia.

Sedangkan untuk natrium benzoat adalah kemungkinan pertama yang berarti yang kita punya untuk mempengaruhi target ini.

Dia juga menambahkan bahwa penelitian ini menyoroti pentingnya penanganan skizofrenia untuk memahami saklar molekuler, yang dapat dilemparkan untuk menormalkan fungsi sirkuit otak.

Sejauh ini penelitian dan percobaan akan terus dilakukan guna mendapatkan hasil yang jauh lebih baik lagi, terutama untuk menangani masalah skizofrenia.

Itulah tadi sedikit informasi yang bisa kami sampaikan mengenai penemuan obat terbaru untuk menangani masalah gangguan mental skizofrenia.

Kesimpulan

Dari penjelasan di atas, sangat jelas terlihat usaha keras dari para peneliti untuk segera menyelesaikan penelitian lanjutan mereka, terutama yang dilakukan oleh periset asal Taiwan, yaitu Dr Lame bersama dengan timnya.

Untuk saat ini, adapun hasil percobaan yang mereka dapatkan menunjukkan bahwa ternyata bahan pengawet, khususnya sodium benzoat cukup efektif untuk membantu meningkatkan keefektifan pada obat yang dikonsumsi oleh para pasien.

Semoga dengan adanya penemuan-penemuan seperti ini, kelak pengobatan untuk para pasien menjadi lebih baik lagi dan tidak hanya bisa meredam gejala atau mengobati gangguan mereka dalam waktu yang singkat, melainkan bisa mengobati gangguan tersebut sampai tuntas ke akar-akarnya.