Kecanduan Belanja Termasuk Gangguan Kejiwaan (Psikologis)

Bagi para wanita, berbelanja adalah hal yang wajar-wajar saja untuk dilakukan. Hampir semua wanita menganggap bahwa berbelanja merupakan suatu kegiatan yang sangat menyenangkan untuk dilakukan. Tak heran jika melihat wanita, bisa menghabiskan waktu seharian penuh dengan berkeliling mall, atau pusat perbelanjaan lainnya. Walaupun yang dibeli jumlahnya tidak banyak, tapi kalau namanya belanja, wanita sering lupa diri, dan lupa pulang pastinya. Berkeliling dan melihat-lihat barang yang diperjualbelikan tanpa harus membeli, mungkin sudah cukup memberikan mereka suatu kepuasan tersendiri.

Tapi tanpa disadari, wanita yang melakukan kegiatan belanja yang berlebihan, bisa mengalami kecanduan. Seseorang yang mengalami kecanduan belanja sering disebut sebagai shopaholic. Seorang yang mengidap Shopaholic atau kecanduan belanja ini ternyata disebut juga sebagai seseorang yang memiliki gangguan psikologis atau kejiwaan.

Kenapa seorang “Shopaholic” dikatakan memiliki gangguan psikologis?

Perilaku kecanduan berbelanja disebut juga sebgai compulsive buying disorder atau monomania. Kecanduan belanja ini merupakan suatu kondisi, dimana seseorang tidak dapat menahan atau mengontrol dorongan atau keinginan untuk terus menerus berbelanja. Para penderita monomania atau sering juga disebut shopaholic ini, biasanya tidak dapat berhenti berfikir untuk pergi ke toko, dan membelanjakan uangnya. Perilaku yang seperti ini biasanya bisa menyebabkan gangguan pada fungsi sosial, keuangan, dan bahkan dapat merusak pernikahan.

Para shopaholic atau pecandu belanja ini akan merasakan kepuasan dan kesenangan, setelah melakukan pembelian suatu barang. Kepuasan yang dialami penderita saat melakukan transaksi, hampir sama seperti kepuasaan yang dialami seorang pecandu obat-obatan. Para shopaholic akan berusaha untuk menciptakan kepuasan dari kegiatan berbelanja tersebut secara terus-menerus. Akan tetapi, kepuasaan ini biasanya hanya berlangsung sementara. Begitu barang tersebut didapat, kesenangan tersebut akan hilang, dan akan berubah menjadi kehampaan, bahkan depresi. Penderita tiba-tiba akan marah setelah melakukan pembelanjaan yang sebenarnya tidak ia perlukan.

Dalam beberapa kasus, kondisi kecanduan belanja ini berkaitan dengan perilaku menimbun barang. Para penderita biasanya cenderung membeli barang yang sama, yang pernah dibeli sebelumnya, yang telah ia miliki berkali-kali, dan meletakkannya begitu saja, tapi tak pernah menggunakannya

Apa penyebab seseorang jadi kecanduan belanja?

Kira-kira 1-6% populasi mengalami kecanduan belanja, dan 90% di antaranya adalah wanita. Beberapa penelitian mengatakan bahwa, umur rata-rata seseorang yang menderita kecanduan berbelanja adalah 30 tahun, sementara beberapa penelitian lainnya mengatakan, bahwa kecanduan ini umumnya muncul pada usia 18 hingga 20. Penyebab dari kondisi itu sendiri belum dapat dipastikan. Akan tetapi, beberapa ahli percaya bahwa masalah utamanya terletak pada gangguan neurologis. Pendapat lain juga ada yang mengatakan, bahwa kondisi ini berhubungan dengan riwayat kekerasan, atau kurangnya kasih sayang pada masa anak-anak.

Apa saja gejala kecanduan belanja?

Seseorang yang kecanduan belanja ini, berbeda dengan pecandu obat-obatan. Kalau pecandu obat-obatan sangat mudah diidentifikasi dari kondisi fisik, kecanduan belanja ini sama sekali tidak dapat diidentifikasi secara fisik. Pada umumnya shopaholic sangat pandai menyembunyikan kondisi mereka dengan baik, dan kadang hanya orang-orang terdekat saja yang mengetahui masalah mereka tersebut. Para penderita gangguan monomania ini, biasanya akan menyembunyikan bukti transaksi belanjanya, dan bertingkah seolah olah mereka memiliki cukup banyak uang untuk berbelanja.

Beberapa gejala berikut ini juga bisa dijadikan alternatif untuk mengetahui seseorang itu seorang shopaholic atau tidak:

– Seorang Shopaholic biasanya terobsesi untuk melakukan transaksi belanja setiap hari atau setiap minggu.
– Seorang Shopaholic akan memilih melakukan kegiatan berbelanja saat mereka sedang merasa stress.
– Biasanya mereka yang kecanduan belanja akan menghabiskan limit kartu kredit mereka, atau membuka kartu kredit baru tanpa membayar tagihan yang sebelumnya.
– Shopaholic akan merasa sangat senang dan bahagia setelah melakukan transaksi pembelian.
– Cenderung Membeli barang-barang yang sebenarnya tidak diperlukan, atau tidak digunakan.
– Shopaholic yang sudah sangat akut, akan menghalalkan segala cara untuk dapat berbelanja seperti: Mencuri atau berbohong.
– Setelah selesai belanja, biasanya Shopaholic akan merasa menyesal, tapi mereka tidak dapat menghentikan keinginan untuk berbelanja.
– Tidak bisa mengatur keuangan sendiri, dan sering mengutang untuk bisa berbelanja.

Bagaimana cara mengatasi kecanduan belanja?

Apabila anda menemukan kerabat anda atau bahkan anda sendiri mengalami keadaan seperti ini, jangan ragu dan malu untuk mencari bantuan. Monomania merupakan kondisi kecanduan yang masih dapat disembuhkan. Kecanduan berbelanja mungkin akan sulit diobati, karena berbelanja atau melakukan transaksi merupakan, bagian dalam kehidupan sehari-hari. Anda sebaiknya membiasakan diri untuk membeli makanan, pakaian, produk pribadi, dan sebagainya secara teratur. Mengobati kecanduan berbelanja tidak sesederhana menghentikan membelanjakan barang-barang tersebut. Tapi jika dilakukan dengan serius, maka masalah ini bisa teratasi.

Jika kecanduan belanja seseorang sudah masuk pada tahap yang parah, aliran uang shopaholic harus segera dihentikan secara paksa. Seseorang yang dapat dipercaya harus mengambil alih keuangan mereka. Sebagian besar kasus ini juga dapat diterapi dengan cognitive behavior therapy (CBT) konseling individu. Seorang pecandu belanja harus belajar bagaimana mengontrol dorongan dan keinginan belanjanya, dan mencoba mencari tahu faktor yang membuatnya merasa sangat ingin belanja.