Hebat, Bocah Penderita Autis Ini Koreksi Kesalahan di Museum

Pernahkah anda bertemu dengan anak-anak yang mengidap penyakit autis? Bagaimanakah pendapat kalian tentang mereka?

Mungkin banyak orang yang akan memandang sebelah mata anak-anak yang mengidap penyakit autis ini. Beberapa orang juga akan berpikir bahwa anak-anak yang memiliki kekurangan seperti ini tidak mungkin bisa memiliki kemampuan di atas anak normal pada umumnya.

“Jangankan untuk memiliki kemampuan di atas anak normal pada umumnya, untuk bisa memiliki kemampuan yang sama saja rasanya akan sangat sulit untuk mereka”. Setidaknya Begitulah pemikiran tentang anak-anak autis yang mungkin ada di dalam benak orang banyak.

Tapi tahukah anda bahwa pandangan atau persepsi kuno semacam itu telah berhasil dipatahkan oleh seorang anak berusia 10 tahun, yang menderita sindrom Asperger?

Sindrom Asperger merupakan salah satu gejala autisme, dimana para penderitanya memiliki kesulitan dalam berkomunikasi dengan lingkungan, sehingga kurang begitu diterima di masyarakat. Sindrom ini ditemukan oleh Hans Asperger pada tahun 1944.

Anak penderita sindrom yang akan membuat anda tercengang ini bernama Charlie Edwards. Di tengah keterbatasan yang dimilikinya, bocah laki-laki ini ternyata memiliki kelebihan yang pantas diacungi ‘jempol’.

Tidak hanya cerdas, bocah laki-laki ini juga cukup berani untuk mengemukakan pendapatnya kepada orang yang lebih dewasa darinya, serta mengoreksi kesalahan yang dilakukan oleh salah satu museum sejarah yang ada di kota London.

The Natural History Museum yang berada di London, Inggris ini, mengakui bahwa memang ada kesalahan dalam pemberian label nama pada gambar dinosaurus yang terdapat di dalam museum tersebut.

Hebatnya, kesalahan itu baru diketahui oleh mereka setelah seorang anak laki-laki tersebut menemukan dan memberitahukan kesalahan itu pada mereka. Hebat sekali bukan anak ini? Siapa sangka, anak yang selalu diremehkan sepertinya bisa melakukan hal seperti itu.

Ketika berada di dalam museum, bocah yang sangat bijak ini melihat ada label nama yang salah pada gambar dinosaurus berkaki empat yang dipajang di dalam sana. Seharusnya dinosaurus itu bernama Protoceratops, akan tetapi entah mengapa pihak museum malah menuliskan namanya sebagai Oviraptor.

Kalau dipikir-pikir, agak sedikit aneh memang jika anak sepertinya bisa banyak tahu tentang pengetahuan seperti itu. Bahkan anak normal seusianya juga belum tentu bisa melakukan hal yang sama dengan yang dilakukannya.

Ketika Charlie memberitahukan kesalahan itu kepada pihak museum, awalnya orang tua charlie merasa ragu dan bertanya-tanya apa mungkin pihak museum bisa melakukan kesalahan semacam itu.

Namun, Charlie tetap bersikeras dengan pemikirannya dan mengatakan bahwa gambar tersebut seharusnya bukanlah gambar dari spesies Oviraptor, melainkan gambar dari spesies dinosaurus protoceratops.

Charlie tidak akan mungkin bersikeras seperti itu jika dia memang tidak memiliki pengetahuan dan ingatan yang kuat mengenai spesies dinosaurus. Hanya saja yang menjadi pertanyaannya adalah darimana Charlie mendapatkan semua pengetahuan mengenai dinosaurus tersebut.

Menurutnya, Oviraptor adalah spesies dinosaurus yang berjalan dengan menggunakan dua kaki dan biasa mencuri telur-telur dinosaurus lainnya. Sedangkan Protoceratops merupakan hewan yang memiliki bentuk seperti yang terlihat pada gambar siluet yang dipajang di museum tersebut, yang berjalan dengan menggunakan empat kaki.

Jika diartikan secara harfiah, Protoceratops berarti spesies dinosaurus yang memiliki wajah bertanduk pertama.

Kecintaan Charlie pada hewan purba yang bernama dinosaurus memang sudah kelihatan dari kegemarannya membaca tentang pengenalan dan penjelasan dinosaurus.

Oleh karena itulah orang tua Charlie mengajaknya untuk mengunjungi salah satu museum yang ada di London ini. Sementara anak-anak lain sibuk melihat-lihat fosil dinosaurus, Charlie malah lebih senang membaca tanda pengenal dinosaurus yang terdapat di sana.

Ibu Charlie yang bernama Jade mengatakan bahwa anaknya sudah menyukai ilmu paleontologi sejak ia masih sangat kecil. Saat usianya kurang lebih 3 tahun, dia juga sudah mulai membaca ensiklopedi. Karena Charlie mengidap sindrom Asperger, maka tidak heran jika saat dia menyukai sebuah topik tertentu, dia akan mencoba dan mencari tahu semua tentang hal itu.

Sebelum melakukan pengoreksian terhadap kesalahan nama tersebut, Charlie mengatakan bahwa dia melihat adanya perbandingan antara manusia dengan dinosaurus yang ada di dalam gambar itu.

Begitu selesai membandandingkan keduanya, barulah dia bisa menarik kesimpulan bahwa nama dinosaurus itu tidak sesuai dengan bentuk atau spesiesnya. Dia pun mulai mengutarakan pendapatnya itu pada staf yang bekerja di museum tersebut.

Seorang juru bicara museum mengatakan bahwa galeri dinosaurus itu telah diperbaharui beberapa kali. Kemungkinan hal itulah yang membuat terjadinya sebuah kesalahan dalam pemberian nama dinosaurus seperti yang telah diungkapkan oleh Charlie kepadanya.

Pihak museum pun sangat terkesan dengan pengetahuan Charlie dan akhirnya memperbaiki tanda atau nama pada gambar itu. Tidak hanya itu saja, pihak museum juga mengucapkan terima kasih kepada charlie dengan menuliskan ucapan tersebut dalam bentuk sebuah surat, seperti yang tampak di atas.

Apa yang dilakukan oleh Charlie ini sangat menginspirasi mereka yang mungkin memiliki anggota keluarga yang juga penderita autis. Jangan pernah menganggap mereka sebagai sebuah beban, karena setiap orang diciptakan dengan bakat dan kemampuan yang berbeda-beda.

Meski mereka sedikit berbeda, bukan berarti mereka tidak mendapatkan hal yang sama dengan orang-orang normal pada umumnya. Setuju nggak, guys?