Sejarah Dan Perkembangan Bioskop Di Indonesia

Bioskop adalah tempat untuk menonton pertunjukan film menggunakan layar yang lebar. Asal muasal pertunjukan film pertama kali ditemukan oleh Lumiere bersaudara. Auguste dan Louis Lumiere menciptakan alat Cinematographe yang merupakan modifikasi Kinetoscope ciptaan Thomas Alva Edison. Kinetoscope digunakan untuk melihat gambar bergerak dengan cara mengintip dari satu lobang, Lumiere membuatnya mampu memproyeksikan gambar bergerak sehingga bisa di nikmati secara bersama-sama. Pada 28 Desember 1895, untuk pertama kalinya puluhan orang berada didalam suatu ruangan menonton film yang diproyeksikan ke sebuah layar lebar.

Lumiere bersaudara menyewa sebuah ruang bilyard tua di bawah tanah di Boulevard des Capucines, Paris, yang kemudian dikenal sebagai bioskop pertama di dunia. Tempat tersebut kemudian dikenal sebagai Grand Cafe dan menjadi tempat paling populer di Eropa. Tak hanya di Eropa saja, Indonesia juga memiliki bioskop yang pertama dan tertua di Indonesia yang menampilkan pertunjukan film yang bisa di tonton oleh banyak orang. Bioskop awalnya ditemukan pada tahun 1890-an. Muncul pada masa revolusi industri seperti halnya kemunculan telepon, phonograph, dan automobil.

Secara etimologis, bioskop yang dalam Bahasa Belanda ialah bioscoop berasal dari Bahasa Yunani βιος yang artinya hidup dan σκοπος yang artinya melihat. Industri bioskop di Indonesia telah dimulai menjelang berakhirnya abad 19. Pada masa itu, bioskop yang ada berkeliling untuk memutar film-film dari satu tempat ke tempat lainnya. Umumnya, mereka menyewa rumah besar, ataupun lapangan besar yang menjadi cikal bakal layar tancap. Masalah lokasi dan tempat pemutaran ini berpengaruh besar terhadap harga karcis yang ditetapkan. Berikut ini ulasan beberapa sejarah perkembangan bioskop di Indonesia.

Tahun 1942

Ketertarikan masyarakat terhadap bioskop mulai rusak karena adanya propaganda Jepang sehingga banyak yang tidak tertarik untuk menonton film kembali. Akibatnya, banyak gedung bioskop yang sudah berdiri jadi kosong tak berfungsi bahkan hanya digunakan sebagai gedung penyimpanan bahan-bahan pembuatan film. Namun beberapa tahun kemudia film kembali dihidupkan dengan masuknya film-film amerika yang mulai banyak diminati masyarakat.

Tahun 1960

Setelah film dan bioskop kembali diminati masyarakat, film dan bioskop mulai dimanfaatkan untuk hal-hal yang berbau politik. Sehingga banyak film-film amerika yang mulai dibatasi dan diboikot penayanganya. Hingga pada tahun 1970an pecinta dan pihak-pihak yang peduli dengan bioskop mulai bersatu untuk menghidupkan kembali bioskop. Karena pemerintah sudah mulai membuka kesempatan untuk para pemilik bioskop mengimpor film-film luar negeri.

Tahun 1987

Menjadi tahun bangkitnya dan keemasan bioskop karena mulai dikenalkanya bioskop berkonsep moderen yang pertama kali ada di jalan Jenderal Gatot Subroto. Mereka memakai konsep yang memberikan kenyaman untuk para penonton yaitu membangun satu bangunan yang berisi 4 ruangan bioskop dan memberlakukan penjaga tiket oleh gadis-gadis cantik. Sejak saat itu bioskop semakin berkembang dan inovatif seperti saat ini yang lebih mudah kita nikmati.

Tahun 1990-1994

Tahun 1990 adalah tahun awal masuknya bioskop ke Indonesia. Berbeda dengan awal masuknya bioskop di Perancis yang langsung terbentuk bioskop permanen di tempat khusus, di Indonesia bioskop pertama kali muncul di halaman sebuah rumah orang berdarah Belanda tepatnya tanggal 5 desember 1990.

Hingga 3 tahun kemudia tempat ini meresmikan lokasinya dan mengganti namanya menjadi The Roijal Bioscope. Hingga satu tahun berikutnya bioskop semakin diperlihatkan pada khalayak ramai mengenai adanya gambar bergerak. Namun tidak semewah sekarang mungkin lebih tepatnya seperti layar tancap.