Yahoo, Situs Internet Yang Hanya Tinggal Kenangan

Dalam dunia bisnis, jatuh bangun sudah menjadi hal yang biasa. Ada kalanya di atas dan ada waktunya di bawah. Pada saat berada di atas, anda harus bisa menjadi rendah hati dan tidak langsung cepat merasa puas, dengan pencapaian yang sudah didapatkan. Sedangkan saat sedang berada di bawah, anda tidak boleh langsung menyerah dan berpikir kalau semuanya akan segera berakhir.

Karena di saat seperti ini, anda harus tetap bisa berpikir optimis, kalau masalah sulit itu akan segera berlalu. Tapi ingat, kalau cuma hanya berpikir optimis tanpa adanya usaha keras, tidak akan membuahkan hasil apapun. Usaha keras juga salah satu hal penting yang perlu anda lakukan, agar bisnis yang anda pimpin bisa bertahan, bahkan berkembang menjadi lebih baik.

Dunia bisnis itu kejam, Bro. Kalau gak bisa memakan, ya terpaksa dimakan. Kekejaman dunia bisnis ini juga terjadi pada ranah bisnis internet. Jika bisnis anda masih saja berada pada zona aman, tanpa adanya perkembangan dan masih menggunakan cara dan metode yang sudah kuno, bisnis tersebut hanya tinggal menunggu kapan waktunya jatuh dan akhirnya “mati”. Kejam memang. Tapi mau gimana lagi? Yah, begitulah dunia bisnis. Yang memiliki kreativitas dan ide-ide yang selalu baru atau fresh, pasti akan lebih maju.

Banyak contoh bisnis internet yang mungkin anda tahu  pernah sangat berjaya, tapi akhirnya musnah karena hanya “stuck” di posisi zona aman nya.

Friendster adalah salah satu contoh nyatanya. Mungkin beberapa dari anda masih sangat familiar dengan situs yang satu ini. Dan tidak menutup kemungkinan juga beberapa diantara anda sama sekali tidak mengenalnya, karena pada zaman friendster ini, internet tidak se-booming seperti sekarang ini. Friedster ini didirikan di Silicon Valley, California, Amerika Serikat.

Pendiri friendster ini adalah Jonathan Abrams, yang juga sekaligus sebagai kreator dari Friendster. Sebelumnya, Jonathan adalah pendiri dan CEO HotLinks. Dia juga pernah menjabat sebagai senior enginering, pada perusahaan internet terkenal Netscape dan Nortel. Abrams sendiri adalah lulusan Computer Science dari McMaster University. Melihat riwayat pendidikan dan pekerjaannya, tidak heran kalau Jonathan sanggup mendirikan bisnis friendster ini.

Di awal perkembangannya, friendster sempat berjaya di masyarakat. Tapi apa daya, kejayaan itu ternyata harus berakhir dengan singkat. Hanya dalam sekejap saja, friendster mulai terlupakan dan lenyap, sejak Facebook hadir, dan memberikan sesuatu yang jauh lebih menarik.

Tidak hanya friendster, bisnis internet lainnya yang terpaksa gulung tikar adalah “Yahoo”. Saat mengetahui kabar mulai jatuhnya Yahoo, banyak masyarakat dunia yang tidak percaya dan menganggap bahwa berita tersebut adalah berita bohong atau hoax. Secara gitu lo, Yahoo merupakan salah satu perusahaan raksasa di dunia, yang pernah sangat berjaya di dunia. Tapi, ya beginilah kenyataan yang sebenarnya. sepertikata pepatah, tidak selamanya kebenaran itu indah. hehe

Yahoo adalah sebuah perusahaan Internet multinasional, yang berpusat di Sunnyvale, California, Amerika Serikat. Perusahaan ini sangat terkenal dengan portal webnya, serta mesin pencari (Yahoo! Search), Yahoo! Directory, Yahoo! Mail, Yahoo! News, Yahoo! Finance, Yahoo! Groups, Yahoo! Answers, situs dan layanan periklanan, peta daring, berbagi video, olahraga fantasi dan media sosialnya.

Salah satu perusahaan raksasa dunia ini harus menerima kenyataan, bahwa ia telah dikalahkan oleh Google dan harus meninggalkan kejayaan masa lalunya. Yahoo yang sempat dihargai sebesar USD 125 miliar pada tahun 2000, kini hanya laku dijual dengan harga yang sangat murah, yaitu hanya USD 4,83 miliar.

Pengen tahu bagaimana kisah Yahoo mulai dari awal berdiri sampai akhirnya harus jatuh? Baca saja artikel ini.

Yahoo Tinggal Kenangan

Awal kisah Yahoo ini bermula puluhan tahun lalu, tepatnya di tahun 1994. Jerry Yang, yang merupakan imigran asal Taiwan yang baru lulus dari Stanford, bekerjasama dengan David Filo, yang merupakan seorang programmer pendiam dari Lousiana. Keduanya membuat semacam direktori website, bernama David’s Guide to the World Wide Web.

Tak disangka-sanga, ternyata direktori itu disukai oleh para pengguna internet. Pada tahun berikutnya, Sequoia Capital memberikan modal untuk perusahaan yang berganti nama jadi Yahoo tersebut, lalu menunjuk mantan eksekutif Motorola, Tim Kogle, sebagai CEO. Jerry Yang dan David Filo sendiri masih banyak terlibat.

Pada masa-masa ini, Yahoo adalah satu-satunya bisnis internet yang paling berjaya tanpa tandingan. Dan pada tahun 1998, Yahoo berhasil menjadi website paling populer dan telah go public alias berjualan saham di bursa. Pada Januari 2000, harga saham Yahoo mencapai titik puncak senilai USD 118.

Akan tetapi, semakin berkembangnya zaman, terjadilah dotcom bubble, di mana banyak perusahaan internet jatuh dan akhirnya musnah. Harga saham Yahoo di tahun ini bahkan anjlok sampai USD 8. Akan tetapi, Yahoo masih mampu bertahan pada masa-masa sulit tersebut. Karena hal ini, kepemimpinan Yahoo akhirnya digantikan pleh Terry Semel, yang adalah mantan eksekutif Warner Brothers, sebagai CEO, untuk menggantikan Kogle.

Pada masa ini, Yahoo telah melewatkan banyak kesempatan besar, yang pastinya akan mereka sesali seumur hidup. Sebenrnya, Yahoo bisa saja membeli Google pada tahun 2002 yang lalu. Tapi karena kurang gigih dan merasa kalau dia takkan bisa tergantikan, aksi akuisisi tersebut tidak pernah terjadi.

Selanjutnya di tahun 2006, Yahoo berniat untuk membeli Facebook. Namun tidak berhasil. Dan alhasil, akhirnya Google dan Facebook menjadi bumerang bagi bisnis Yahoo. Kedua perusahaan itu merupakan salah satu alasan keterpurukan Yahoo, hingga akhirnya Yahoo harus mengangkat tangan dan menyerah.

Pada tahun 2008, Yahoo mulai menunjukkan tanda-tanda kemunduran perusahaan. Kemudian Microsoft datang untuk memberi penawaran senilai USD 44,6 miliar. Namun ditolak oleh Jerry Yang, yang saat itu adalah CEO Yahoo, karena menganggap tawaran itu terlampau rendah.

Tak disadari, ternyata penolakan tersebut adalah langkah atau kebijakan yang salah, dan lagi-lagi berujung penyesalan, karena nilai Yahoo semakin terus menurun. Tiga tahun setelah tawaran Microsoft itu, kapitalisasi pasar Yahoo hanya sebesar USD 22,24 miliar.

Akhirnya Yahoo tak pernah mampu bangkit seperti zaman keemasannya dahulu, walau sudah bergonta-ganti CEO. Kapitalisasi pasar mereka semakin anjlok, sehingga PHK terpaksa dilakukan dan operasional kantor di berbagai negara termasuk Indonesia akhirnya harus ditutup. Yahoo sebagai perusahaan mandiri pun berakhir, setelah dicaplok Verizon dengan harga yang hanya USD 4,83 miliar.

Berawal sebagai perusahaan raksasa yang sangat berjaya pada masanya, kini Yahoo harus rela melepas dan meninggalkan kejayaannya tersebut, karna ulahnya sendiri. Yah, alhasil sekarang Yahoo hanya akan tinggal kenangan semata.